1. Hilangkan Mindset “Main Saham”

Salah kaprah pertama dalam memulai berinvestasi di saham adalah mindset ‘main saham’. Kata ‘Main’ di sini membuat kita memiliki pola pemikiran bawah sadar ‘main-main’ sehingga bukan mustahil kita akan memperlakukan saham secara main-main, dan potensi rugi serta kehilangan saham menjadi besar.

Perlakukanlah saham dengan mindset bisnis dan kita melakukan investasi dalam bisnis saham kita. Mindset dasar awal seperti ini justru adalah modal awal terbaik dalam investasi saham kita. Jadi kalau kita masih berpikir tentang ‘main saham’, otomatis akan memicu perilaku yang tidak bijak dalam pengelolaan uang.

 

2. Kita Tidak Perlu Melihat Chart atau Grafik Setiap Hari

Apakah kita memiliki waktu yang cukup banyak untuk trading? Apakah kita memiliki pengetahuan yang cukup? Apakah kita memiliki kemampuan untuk membaca chart? Kalau jawabannya semua tidak, maka bukan berarti kita tidak bisa berinvestasi saham.

Kalau kita tidak memiliki kompetensi membaca chart dll, nggak usah juga lihat chart setiap hari. Investasi akan jauh lebih baik untuk jangka panjang. Jadi kita menabung di saham, untuk hasil jangka panjang, kita nggak usah repot dan bingung akan berita-berita tentang IHSG merah dan la-la-la.

Kenali dan pahami, apakah kita trader atau investor? Warren Buffett adalah Investor saham yang baik. Jadi bukan berarti selalunya trading lebih baik daripada investasi loh. Trading memang bisa menghasilkan hasil instan yang nyata di depan kita, namun investasi juga bisa memberikan hasil yang tak kalah baik hanya dengan membeli dan mendiamkan saham pilihan kita selama beberapa tahun ke depan.

 

3. Hilangkan mental judi dan mental ingin mendapatkan keuntungan secara instan

Dan jangan mudah juga tergoda oleh sesama ‘teman baru’ yang bercerita kalau ia baru saja mendulang profit 10% hari ini. Biasanya sih, trader-trader pemula akan sering sekali bragging tentang keuntungannya, tapi memilih untuk diam dan mendadak menjadi sunyi ketika sahamnya merah membara.

Kenaikan saham per hari bisa dan ada kok yang mencapai 10%-25%, tapi bukan itu yang kita cari. Karena bisa jadi karena mental judi yang kita miliki kita akhirnya memilih saham yang memiliki rally volatile tinggi, atau bahasa kerennya saham-saham gorengan.

Warren Buffett ‘hanya’ mengharapkan profit 22% per tahun loh. Dan ia menunggu sedikitnya 30 tahun untuk menjadi salah satu orang terkaya di dunia.

Investing in the stock market is like watching the grass grow, or waiting for the paint to dry. It takes time, but it will be worth it.

4. Pilih Saham Yang Kita Kenal

Ada sedikitnya 507 saham yang terdaftar di bursa efek. Bagaimana cara kita memilih saham yang baik dan cocok dengan kita? Sesederhana mulailah dengan nama-nama yang kita kenal dan percaya.

Atau mulailah dengan kita membuka dompet kita. Ada ATM Bank apa di sana? Apakah kita percaya Bank tersebut akan masih ada 10-20 tahun lagi? Coba lihat sekeliling rumah. Produk-produk apa yang sering kita pakai? Apakah keluaran dari satu perusahaan atau 2 perusahaan yang sama?

Mulai dari cara yang sederhana, atau mencari tahu dari Koran dalam daftar LQ45 atau Kompas100 sudah bisa menyaring 507 saham menjadi 45-100 saham. Pilih ‘nama’ yang kita kenal, dan paham. Baiknya tidak memilih nama berdasarkan hal yang tidak kita pahami, seperti saham pertambangan misalnya, padahal kita tidak berkecimpung di dunia itu.

Namun isi juga pengetahuan kita dengan mulai membaca informasi-informasi yang berhubungan dengan pilihan saham kita. Berita-berita tentang properti, perbankan, infrastuktur, consumer goods, tambang dan lain-lain bisa juga kita jadikan bahan awal menambah pengetahuan kita dalam memilih saham.

Kenali, pahami dan pelajari analiasa fundamental perusahaan. Sedikit menambah membaca akan menjadi ilmu pengetahuan tambahan yang ga akan merugikan.

5. Diversifikasi

Istilah mudah dari diversifikasi adalah Jangan menaruh telur dalam satu keranjang. Ada beberapa sektor dalam klasifikasi saham. Sektor properti, perbankan, consumer goods, pertambangan, infrastuktur/konstruksi, adalah sebagian dari sektor-sektor yang ada.

Kalau kita ingin berinvestasi di saham, jangan hanya dalam satus ektor saja, misalnya kita hanya mengkoleksi saham perbankan saja, atau saham consumer goods saja. Tapi bagi-bagi, sebagian di perbankan, sebagian di consumer goods, sebagian di properti, dan lain-lain.

Namun tetap, kalau kita tidak mengerti sektor yang ada, jangan. Misalnya: Saya tidak mengerti mengenai pertambangan, jadi saya tidak akan berinvestasi di saham pertambangan.

Seperti apa yang Peter Lynch katakan, kalau kita bisa menerangkan sebuah perusahaan pada seolah anak kelas 5 SD dan ia tidak merasa bosan, maka saham perusahaan tersebut layak untuk dimiliki.

 

6. Konsisten dan Disiplin

Gunakanlah mindset menabung dalam berinvestasi untuk jangka panjang di saham. Konsistensi dan disiplin dalam menabung di saham akan memberikan hasil yang baik, namun memang tidak instan.

Keadaan market mungkin akan naik turun, namun dengan konsistensi dan disiplin, hasil imba balik yang baik pasti akan kita terima.

 

7. Wait and See

Membeli saham itu seperti membiarkan rumput bertumbuh, atau cat pada dinding mengering. Butuh waktu untuk berkembang. Dan kalau kita memperhatikannya setiap hari, malah mungkin kita akan panic melihat harga beli kita lebih tinggi dari harga sekarang oleh karena chart naik-turun. Apalagi melihat persentase yang merah menakutkan dan jumlah angka ‘kerugian’ unrelistik.

Unrealistik, artinya hanya akan terealisasi kalau kita menjual rugi atau cut loss. Tapi coba kalau kita diamkan selama beberapa hari, beberapa minggu, beberapa bulan bahkan beberapa tahun.

Beberapa saham BUMN mampu membukukan kenaikan cantik 66%-200% dalam setahun. Bahkan beberapa saham consumer goods lain, perusahaan farmasi, dan property juga mampu membukukan kenaikan manis diatas 500% hanya dalam 4 tahun. Dan ini bukan saham-saham yang baru atau ‘aneh-aneh’ tapi saham dari perusahan yang namanya kita kenal dan produknya sudah kita pakai bahkan sebelum kita lahir. Kita hanya harus sabar dan melihat perkembangannya saja.

 

8. Investasi di saham hendaknya disesuaikan dengan dana yang dimiliki

Ada banyak sekali saham dari perusahaan-perusahaan besar yang harganya masih di bawah Rp. 5.000,- per lembar saham. Ada yang masih sekitar Rp. 10.000,- an per lembar sahamnya, bahkan ada yang harganya masih 800 perak.

Ketentuan dari Bursa Efek Indonesia menetapkan kalau 1 lot saham adalah 100 lembar saham. Jadi kita masih bisa memiliki saham-saham dari perusahaan unggulan mulai dari Rp. 250.000,00 per lotnya. Atau bahkan serendahnya Rp. 80.000,00.

Yang harus dihilangkan di sini adalah alasan. Apa alasan kita untuk tidak membeli saham itu yang membuat kita tidak akan pernah membeli saham. Tapi, jangan gunakan alasan membeli saham harus berjuta-juta ya. Kalau tidak tahu, cari tahu, tanya dan pelajari. Alasan ina ini inu tidak akan membuat kita kaya.

 

9. Manfaatkan pelatihan saham gratis yang diadakan oleh Bursa Efek Indonesia dan Sekuritas

Bursa Efek Indonesia memberikan pelatihan gratis setiap minggunya untuk siapapun yang ingin ikut, tanpa dipungut biaya, dan dapat sertifikat. Kalaupun dipungut biaya, yaitu sekitar Rp. 100.000,00 maka uang tersebut malah sudah bisa kita gunakan langsung untuk membeli saham.

Sekuritas tempat kita membuka rekening efek juga sering memberikan pelatihan tambahan gratis. Bahkan kita bisa ikuti berulang-ulang, atau mengikuti kelas advancenya, bahkan ada acara Investor Gathering yang membahas economy and market outlook sebulan sekali, sehingga kita bisa terus update dalam pangsa pasar saham Indonesua.

 

Nah, apakah masih takut berinvestasi di pasar modal? Pikirkanlah baik-baik karena yang sebenarnya perlu kita takuti adalah inflasi dan kalau kita tidak ulai berinvestasi, uang kita tidak akan pernah mencukupi untuk apapun.

Janganlah kita malah takut untuk berinvestasi di instrument keuangan yang justru memberikan imbal balik menguntungkan. Dan jangan juga terpaku pada instrument investasi konvensional.

Ingatlahlah: seorang milyuner saja berinvestasi di saham, kenapa justru kita tidak mau meniru langkah investasi mereka?

 

FIONEY SOFYAN, S. Ked., RFA
A financial enthusiast who loves writing and running,
and dreaming one day can participate in 6 World Marathon Major 

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*